Tampilkan postingan dengan label Proposal Skripsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Proposal Skripsi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 12 Mei 2012
Sistematika Penulisan Proposal Skripsi
Sistematika
Penulisan Proposal Skripsi
(Penelitian
Kuantitatif)
HALAMAN JUDUL
HALAMAN
PENGESAHAN
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I : PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
B.
Rumusan
Masalah
C.
Tujuan
Penelitian
D.
Kegunaan
Penelitian
BAB II :
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Teori
dan Konsep (yang mendukung variabel Penelitian)
1...........................
2. ..........................
3. .........................
dst..............................
B.
Definisi
Konsepsional
C.
Operasionalisasi
Variabel
D.
Hipotesis
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
A.
Jenis
Penelitian
B.
Tempat
dan Waktu Penelitian
C.
Populasi
dan Sampel
D.
Teknik
Pengumpulan Data
E.
Alat
Pengukur Data
F.
Teknik
Analisis Data
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Senin, 07 Mei 2012
HUBUNGAN KEEFEKTIFAN FUNGSI KOMITE SEKOLAH DENGAN KINERJA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN
PROPOSAL PENELITIAN
HUBUNGAN KEEFEKTIFAN FUNGSI KOMITE SEKOLAH
DENGAN KINERJA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN
SD N 1
Pangandaran”
A. Latar Belakang
Sekolah merupakan suatu sistem sosial yang memperoleh input sumber daya
(sumber daya manusia, siswa, finansial, dan lain-lain) dari lingkungan yang
selanjutnya diproses di sekolah dan akhirnya menghasilkan output yang
akan dikembalikan ke lingkungan (masyarakat). Hal ini menunjukkan bahwa sekolah
merupakan organisasi yang tidak dapat berdiri sendiri, tidak dapat berkembang
dan mencapai kemajuan tanpa keterlibatan dari lingkungan. Sekolah merupakan
organisasi yang tidak terpisahkan dari lingkungan.
Sekolah merupakan suatu organisasai, dimana menurut Hoy dan Miskel (2001)
bahwa organisasi memperoleh input dari lingkungan, melakukan proses
transformasi, kemudian menghasilkan output. Model sistem seperti ini
merupakan model sistem terbuka yang memandang organisasi tidak hanya
dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi juga tergantung pada organisasi itu
sendiri.
|
“Sistem pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan bentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan warga negara
yang demokratis dan bertanggung jawab.” (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2003:6)
Peningkatan
mutu pendidikan pada pendidikan formal dibutuhkan suatu Komite Sekolah yang
akan memberikan sumbangsih pemikiran dan kontrol terhadap pelaksanaan
pendidikan. Selain itu diperlukan pula suatu perencanaan pendidikan yang akurat
dan sistimatis terhadap perkembangan pendidikan melalui kerjasama dengan tokoh
masyarakat, melalui suatu wadah formal yang disebut dengan komite sekolah.
Komite Sekolah merupakan nama baru pengganti Badan
Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3). Secara substansi kedua istilah
tersebut tidak begitu mengalami perbedaan. Yang membedakan hanya terletak pada
pengoptimalan peran serta masyarakat dalam mendukung dan mewujudkan mutu
pendidikan. Komite Sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peran serta
masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi
pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan, baik pada pendidikan pra sekolah,
jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan di luar sekolah (Kepemendiknas
nomor: 044/U/2002).
Adanya rancangan hubungan atau
kerjasama antara sekolah dengan masyarakat perlu ditingkatkan, dengan tujuan
untuk mencapai tiga hal: (1) sekolah memiliki komunitas peserta didik yang
berdomisili tidak terlalu jauh dari lokasi sekolah, sehingga terjadi proses
rayonisasi berdasarkan domisili. Adanya rayonisasi fungsional akan menciptakan
sinkronisasi antara kegiatan sekolah dengan kegiatan kemasyarakatan, (2)
rayonisasi fungsional akan muncul kaitan emosional antara masyarakat dengan
sekolah, dan (3) kaitan emosional dapat menggugah partisipasi masyarakat dalam
meningkatkan kualitas pendidikan pada umumnya dan pemberdayaan pada khususnya (Zamroni,
2000:56)
Rancangan Keputusan Menteri
Pendidikan Nasional nomor 044/U/2002
yang sederhana menjadi peluang tetapi juga menjadi tantangan. Jika dari
kesederhanaan itu pengurus dan anggota komite sekolah tidak berinisiatif untuk
melengkapi struktur organisasinya dengan baik, maka akibatnya akan lebih buruk.
Komite sekolah harus memiliki struktur organisasi yang lebih baik sebagai suatu
kerangka seluruh kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi.
Dalam Pasal 188 (2) PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan, peran serta masyarakat telah dirumuskan sebagai
berikut. Masyarakat menjadi sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan.
Oleh karena itu, masyarakat mempunyai peran dalam bentuk (a) penyediaan
sumber daya pendidikan, (b) penyelenggaraan satuan pendidikan, (c) penggunaan
hasil pendidikan, (d) pengawasan penyelenggaraan pendidikan, (e) pengawasan
pengelolaan pendidikan, (f) pemberian pertimbangan dalam pengambilan keputusan
yang berdampak pada pemangku kepentingan pendidikan pada umumnya; dan/atau (g)
pemberian bantuan atau fasilitas kepada satuan pendidikan dan/atau
penyelenggara satuan pendidikan dalam menjalankan fungsinya. Cukup banyak dan
beragam kemungkinan peran yang dapat ditunaikan oleh masyarakat dalam urusan
pendidikan.
Hasil
pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa pelaksanaan komite sekolah di SD N 1
Pangandaran sedang berjalan, namun pengurus dan anggota komite sekolah realatif
belum optimal dalam melaksanakan tugas dan fungsinya yakni masih kurang dalam
memberikan pertimbangan, masukan dan rekomendasi, mendukung, mengontrol serta
masih kurang dalam menjadi mediator antara pemerintah dengan masyarakat. Masih
relatif kurang dalam melaksanakan fungsinya yaitu masih rendah dalam mendorong
partisipasi masyarakat terhadap peningkatan kinerja sekolah, masih kurang dalam
kerjasama dan evaluasi terhadap kinerja sekolah, maka fungsi komite sekolah di
SD N 1 Pangandaran belum terimplementasi secara maksimal tentang tujuan dan
fungsi komite sekolah sesuai yang disyaratkan dalam panduan umum tentang Dewan
Sekolah dan Komite Sekolah.
UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN DAN MEMPERBAIKI KUALITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA
Proposal Penelitian
UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN DAN
MEMPERBAIKI KUALITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA
(Penelitian Di SD Negeri III Selasari
Kecamatan Parigi Kabupaten Ciamis)
A.
Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dewasa ini memungkinkan semua pihak untuk
dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat, dan mudah dari berbagai
sumber dan tempat di dunia serta dari berbagai aspek dan bidang. Matematika
sebagai salah satu ilmu dasar, baik terapan maupun aspek penalarannya mempunyai
peranan penting dalam upaya meningkatkan pemahaman maupun penerapan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Hal ini berarti, sampai pada batas tertentu
matematika perlu dikuasai oleh segenap warga Negara Indonesia agar mampu
bertahan hidup dalam era globalisasi dan berteknologi maju disaat sekarang
maupun di masa datang.
Matematika merupakan ilmu
universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting
dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di
bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh
perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori
peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa
depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
Menurut Marpaung (2002:1),
upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan
matematika dewasa ini antara lain: (1) melakukan perubahan kurikulum secara
teratur supaya isi kurikulum tidak ketinggalan dengan perkembangan IPTEK dan
kebutuhan masyarakat yang berubah dengan cepat, (2) melaksanakan penataan
guru-guru, (3) melengkapai perlengkapan sekolah, (4) mengirim tenaga
kependidikan keluar negeri untuk mengikuti workshop, (5) studi lanjut,
studi banding, konferensi, dan sebagainya.
Usaha-usaha untuk
meningkatkan kualitas pendidikan matematika tersebut harus terus dilaksanakan,
sebab secara tidak langsung pembelajaran matematika merubah cara berpikir dan
sikap siswa. Memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia berarti juga memperbaiki
kualitas pembelajaran matematika.
Tujuan
pendidkan akan berhasil sesuai dengan yang diharapkan kita ada kerjasama antara
guru, orang tua maupun murid. Hal ini sejalan tujuan pendidikan secara umum
dalam pendidikan agama yaitu mendidik peserta didik agar mereka menjadi muslim
sejati, iman, teguh, beramal sholeh, dan berakhlaq mulia serta berguna bagi
masyarakat, agama dan Negara. ( Darajat, 1996:35)
Dalam
upaya pencapaian dan pembelajaran pendidikan yang optimal sangatlah urgen bila
orang tua ikut berperan aktif dalam pendidikan Islam baik. Sebab sering terjadi
kelalaian orang tua yang menyebabkan anak didik menyepelehkan dalam
mengaktualisasikan dan mengekspresikan apa yang telah diperolehnya disekolah.
sebagaimana yang terjadi di Sekolah Madrasah Tsanawiyah Legok Jawa.
Bermula
dari keadaan lingkungan yang kurang kondusif dimana keadaan masyarakat yang
masih mempunyai anggapan atau pola fikir tradisional, bahwa menyekolahkan
anaknya kelembaga pendidikan yang bersifat agama telah cukup dan melimpahkan
tanggung jawab kepada pendidiknya yakni guru. Sehingga ketika terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan misalnya, bolos sekolah karena belum mengerjakan tugas,
tawuran antar pelajar, anaknya tidak naik kelas atau anaknya tidak mendapatkan
peringkat pertama ataupun nilai yang memuaskan ataupun perbuatan melakukan
perbuatan akhlak tercela lainnya, tak segan segan orang tua melabrak gurunya
ataupun wali kelasnya dikarenakan anaknya tidak naik kelas atau peringkat
pertama maupun pertanggung jawabanya.
Karena
merasa telah memenuhi kebutuhanya termasuk memasukan anak tersebut kelembagaan
non formal guna memperdalam terhadap materi yang diajarkan disekolah. Akan
tetapi mereka kurang menyadari akan perlunya perhatian orang tua, misalnya
menanyakan apakah ada PR (pekerjaan rumah), apakah ia telah menguasai materi
yang disampaikan oleh guru, jarang sekali mereka mendampingi anaknya belajar,
bahkan ada yang berpandangan yang penting sekolah dari pada tidak sama sekali.
buat apa sekolah pada akhirnya juga kerja, menikah.
Kurangnya
perhatian dari orang tua berakibat banyak kalangan pelajar meremehkan belajar,
kerena belajar merupakan aktivitas yang tidak menyenangkan. Duduk berjam-jam
dengan mencurahkan perhatian dan pikiran pada satu pokok bahasan, baik yang
sedang diceramahkan guru atau yang sedang dihadapinya di meja belajar, hampir
selalu dirasakan sebagai beban ketimbang upaya aktif untuk memperoleh ilmu. Mereka
tidak menemukan suasana re-kreasi (mencipta kembali dengan penuh
kesadaran) saat di kelas atau pun ketika mengerjakan tugas di rumah. Karenanya
banyak pelajar menganggap ruang-ruang belajar di sekolah atau di rumah sebagai
sebuah penjara. Kalau saja mereka datang ke tempat belajar atau bergulat dengan
setumpuk pe-er, maka itu tidak lebih dari sekadar rutinitas untuk
mengisi daftar absensi atau untuk mencari nilai, tanpa diiringi kesadaran untuk
menambah wawasan atau pun mengasah keterampilan. Dari sini dapat diketahui akan
pentingnya orang tua dalam proses pembelajaran bukan sepenuhnya menyerahkan
kepada guru. Sehingga akan tercapai pendidikan yang optimal.
Berdasarkan
permasalahan di atas penulis termotivasi untuk mengadakan penelitian dan
mengkaji terhadap tema tersebut dan untuk dituangkan dalam bentuk skripsi
dengan judul “UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN DAN MEMPERBAIKI KUALITAS
PEMBELAJARAN MATEMATIKA (Penelitian
Di SD Negeri III Selasari Kecamatan Parigi Kabupaten Ciamis)”.










